Commited Quotes Pick
from Commited by Elizabeth Gilbert

I read Commited, book by Elizabeth Gilbert (Best seller Eat, Pray, Love). It's just a good moment to read this since I've lost "direction" (lets called it: Lost in Love. Ye-ha!)

While I'm enjoying my "me" time, I fulfill myself with new perspective(s), deeper philosophy (contemplation?), etc. Not only Elizabeth Gilbert, Life Lesson from Chicken Soup is a good book to learn Law of Attraction; How to make your dream come true (well, not only lost in love, maybe I almost lost my plan for future... what a mellow girl). The main point that I've got after read Commited is; learn to make peace with yourself.

Here I quotes from those book, in Indonesian, and I will renew this post until I finish those books (especially Life Lesson, I'll separate it).
"Satu-satunya jalan keluar dari kekusutan emosi adalah dengan merasakannya hingga tuntas. 
Tidak perlu menjadi seseorang yang jenius untuk memahami keadaan yang memaksamu untuk melakukan satu-satunya hal yang selalu kau benci & takuti, setidaknya hal ini bisa menjadi sebuah kesempatan yang menarik untuk tumbuh.
Semua kekasih bahkan para kekasih paling setia, berisiko ditinggalkan diluar kehendak mereka
Selalu ada kemungkinan kalian berdua tidak akan sanggup menyelesaikan masalah, tapi setidaknya di kemudian hari kau akan tahu bahwa kau sudah melakukan udaha sepenuh hati untuk mempertahankan keamanan dinding dan jendela hubunganmu, dan mengetahui hal tersebut bisa membuatmu tenang.
Dan jika kau mengkhawatirkan "masalah" yang akan datang di dalam hubunganmu, sebaiknya kau memahami bahwa masalah tidak selalu berarti sesuatu yang yang selalu "terjadi begitu saja"; masalah seringkali dipupuk dengan ceroboh dalam cawan-cawan jecil yang kita sebarkan di seluruh penjuru kota. 
Kita yakin jika dua orang sungguh-sungguh saling mencintai, keintiman entah bagaimana akan datang sesuai intuisi mereka, dan hubungan mereka akan berjalan selamanya hanya dengan kekuatan kasih sayang. Karena yang kau butuhkan hanya cinta! Kau jelas-jelas tidak membutuhkan strategi, atau bantuan, atau alat, atau perspektif. Sehingga aku dan pasangan pertamaku nekat memulai hubungan dari sebuah titik dengan ketidaktahuan besar, dan ketidakdewasaan besar, dan ketidakpastian besar hanya karena kami merasa ingin menikah. Kami mengikat janji tanpa mengetahui sedikitpun cara untuk mempertahankan (komitmen) ikatan kamu agar tetap hidup dan aman.
Seandainya ada satu celaan yang tidak sanggup kuhadapi dengan anggun, itu adalah melihat orang-orang mengacaukan pribadi yang kupuja mengenai diri mereka."
–– Elizabeth Gibert, Commited

Comments

Popular Posts