EKSPLOR INDONESIA: Flores, NTT (Part V)
Dintor – Denge – Wae Rebo

25 Maret 2014

Selamat pagi Indonesia!

Sejak meninggalkan Ruteng, sinyal handphone hilang. Jadi, kira-kira sampai besok saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang rumah maupun Suam yang sedang dinas ke belahan asia timur. Guna menghemat batere, handphone pun saya matikan. Kalau kemarin saya bangun tidur melihat hamparan laut yang luas dihiasi pulau-pulau sekitarnya membuat pagi itu menjadi syahdu, hari ini saya bangun dengan pemandangan hamparan sawah yang mulai menguning dengan latar sebagian pegunungan dan sebagian lagi laut dan Pulau Mules membuat suasana pagi ini menjadi semangat untuk memulai pendakian menuju Wae Rebo.

Kita bisa menitipkan sebagian barang disini, dan membawa sebagian yang dirasa perlu untuk perbekalan selama di Wae Rebo, karena pada saat turun nanti kita pun akan bersih-bersih, makan siang baru pulang. Namun nampaknya saya dan Dini terlalu prepared jadi tidak semua barang diperlukan untuk dibawa, hahahaha.

Buku yang akan disumbangkan. 365 hari penuh inspirasi, 365 halaman yang setiap halaman berisi 1 kalimat mutiara untuk direnungkan satu hari. 1 halaman 1 renungan 1 hari.
Sarapan sederhana, dengan pemandangan hamparan padi. Subhanallah.

Nasi goreng dengan telor dadar dan air putih (Dini kopi), sarapan pagi ini walau sederhana namun terasa lezat. Tak lupa kami pun mengisi buku tamu sebagai tanda bahwa kami sudah pernah singgah di tempat ini dan mengunjungi Wae Rebo. Sebelum perjalanan ke Flores ini saya sudah nonton Jalan-Jalan Men duluan jadi saya tahu apa yang diperlukan di sini. Wae Rebo membangun Taman Bacaan untuk anak-anak sehingga mereka tetap bisa belajar membaca menulis sebelum mengemban ilmu di SD Kombo, Denge, yang letaknya di bawah kaki gunung Wae Rebo––di situlah start pendakian kami dimulai. Saya membawa buku untuk disumbangkan, namun sayangnya Taman Baca tersebut belum diresmi-resmikan oleh Bapak Hatta Radjasa (mungkin lagi sibuk kampanye, hihi) jadi lah buku tersebut saya titipkan ke Pak Martin.

Untuk menuju ke Desa Kombo, kami menggunakan ojek untuk menghemat waktu. Jarak dari tempat penginapan ke sana kira-kira seperti dari Pondok Indah Mall menuju Senayan City kali ya. Jadi, kalau kami berjalan kaki bisa-bisa sampainya siang. Rencana awal kami start pendakian pukul 7, kami mulai setengah 8. Pendamping kami, Papa Frans, sudah menunggu di sana. Beliau membawa tas saya yang keberatan gadget (iPad dan DSLR––jangan ditiru ya! bawa salah satu saja, dan gunakan kamera handphonemu) dan saya sudah lamaaaaa sekali tidak olah raga. 

Pendakian ini memiliki 3 pos. Menuju pos pertama jalan cukup berat. Sebenarnya tidak berat jika jalan aspal yang direncanakan sudah jadi. Namun, yang kami hadapi sebagian besar adalah bongkahan batu yang besar dan tanah merah. Jika hujan daerah ini cukup rawan. Masih pagi namun cuaca sudah terik, saya sempat kunang-kunang minta time out. Untuk mempermudah perjalanan saya, Papa Frans berinisiatif memotong batang pohon liar dan menjadikannya tongkat untuk saya, sebagai kaki ketiga saya di kalah kelelahan selama pendakian ini. Kami berjalan kurang lebih sejauh 3 km untuk sampai di pos pertama, Wae Lomba.

Wae Lomba adalah nama sungai, dimana mata airnya mengalir dari Wae Rebo hingga Desa Kombo sampai ke Sebu. Air ini digunakan hanya untuk mencuci muka (dihimbau dengan keadaan muka yang sudah kering dari keringat) dan mengisi persedian air minum. Dilarang mencemari sungai ini karena ini adalah satu-satunya sumber air bersih yang mengalir ke hilir untuk keperluan penduduk seperti mandi, mencuci pakaian dan lain sebagainya. Di pos 1 ini saya juga sempat ngemil hehehe.

Aliran Sungai Wae Lomba

Setelah hilang lelah, kami melanjutkan perjalanan. Dari pos 1 ke pos 2 ini lah perjalanan terberat: jalur pendakian. Kami menapaki pegunungan dengan jalan seadanya, harus hati-hati dalam setiap langkah. Sebelah kiri jurang, sebelah kanan bukit, kadang sebaliknya. Dalam perjalanan pendakian ini kami bertemu beberapa warga Wae Rebo yang turun gunung membawa hasil panen mereka seperti kopi, lalu ada juga warga yang mendaki membawa beras dari hasil jual panennya. WAW. Yang dibawa besarnya lebih dari besar dari karung beras yang ada di supermarket lho! Dan alas kaki mereka hanya SENDAL JEPIT. Oh tidaaak! speaking of alas kaki, saya menggunakan sepatu lari, dan apa yang terjadi? pada saat perjalanan menuju pos 1 alas sepatu saya sebelah kiri senyum. Tidak tanggung-tanggung solnya lepas sampai ke tengah telapak kaki saya. Bageuuuussss.

Pos 2, Ponco Roko. Kalau beruntung, di pos ini kita bisa mendapat sinyal handphone!
Laut dan langit menyatu
Nah, dari Ponco Roko ini perjalanan sudah mulai menyenangkan karena tidak ada lagi pendakian. Jalan landai, kalaupun mendaki tak seberapa. Menuju pos terakhir kami bertemu beberapa warga yang sedang berkebun memetik buah kopi yang sudah panen. Dari kejauhan pun kami sudah bisa melihat atap rumah utama Mbaru Niang dari kejauhan. Membuat langkah kami semakin cepat karena kegirangan setengah mati, rasanya girangnya seperti kami sudah dekat dengan rumah setelah perjalanan yang melelahkan!

Mbaru Niang dari kejauhan. Hip hip horrayyyyy!!!!!

Pos 3, Rumah Kasih Ibu, tempat pemberhentian terakhir menuju Desa Wae Rebo
Papa Frans, memberikan sinyal kepada warga bahwa akan ada tamu datang ke desa


Isn't that beautiful? awannyaaa W.O.W!!!!!

to be continued...

Comments

Popular Posts