EKSPLOR INDONESIA: Flores, NTT (Part II)
Live on Board, Day 1
Journey to Rinca Island – Kambing Island – Pink Beach – Kalong Island

Labuan Bajo, 22 Maret 2014
"Tok tok tok...

Diiiin... Riiiiin... Banguuunnnn!!"
Pagi itu udara sejuk, cerah dan bersahabat. Enggi sudah menghampiri kami, tanda harus segera bergegas menuju pelabuhan. Here we go...

Live on Board – Day 1

Tujuan hari ini adalah:

  • Taman Nasional Komodo, Loh Buaya, Pulau Rinca
  • Pulau Kambing (snorkeling spot)
  • Pink Beach (snorkeling spot dan leyeh-leyeh di pantai)
  • Pulau Kalong (kalau beruntung kita bisa melihat gerombolan kalong terbang dan mendiami pulau tersebut––di sinilah kami akan bermalam, di atas kapal)

The adventure begins, tiga wanita menjelajahi lautan mengarungi samudera menapaki beberapa pulau serta menikmati keindahan alam. Ngga laut, ngga pantai, ngga pegunungan, semuanya AJIB!
Udara di sini panas. It's very very hot. If it listed by rank for the most hot place, I would say Flores, Lombok, and Bali. Pakai jaket di sana aja sampe sekarang saya tulis postingan ini saja masih berbekas jelas. Hihihihi.

Taman Nasional Komodo, Pulau Rinca

Kawasan Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga pulau; Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. Pulau ini (Taman Nasional Komodo) di klaim merupakan salah satu dari World Heritage Site UNESCO.

Suasana Loh (pelabuhan) Buaya siang ini nampaknya cukup ramai didatangi pengunjung. Udara siang yang sangat terik ini sangat cocok sekali untuk berjelajah melihat wildlife kerbau, burung, babi liar dan pastinya... the dragon alias KOMODO, SI KOMO yang sebenernya menyeramkan ngga ada unyu-unyunya sama sekali!

Kami pun berjalan menuju pintu masuk Taman Nasional Komodo ini. Ditemani oleh Faiz, supir kapal kecil yang kami tumpangi, dengan tongkat ranger yang ada mengantar kami ke dalam. Oke, jalan ke dalem dari pelabuhan aja ditemani Faiz, pakai tongkat ranger pula, which means you'll never know what will you face in front of you.... rraaawwrrr *lebaaay

Ujung dari tongkat yang digunakan bercabang, fungsinya adalah untuk menahan leher komodo yang 'jahil' mau mendekat.


Sesampainya di kantor registrasi, Faiz kembali ke pelabuhan. Biaya yang kami keluarkan untuk berkunjung ke Taman Nasional ini adalah kurang lebih total Rp 100,000,-––ini sudah termasuk dengan tiket masuk ke Taman Nasional lainnya (besok kami akan ke Taman Nasional di Pulau Komodo, kawasan yang paling populer) exclude guide's fee. Setelah urusan administrasi beres, kami dipertemukan oleh Ranger (guide) yang akan menemani kami selama di sini. Namanya Asgar (21). Asli Garut? tidak kok, pemuda ini asli sini hehehe.

Sebelum perjalanan dimulai, kami di briefing terlebih dahulu. Asgar bertanya apakah diantara kami ada yang sedang 'berhalangan' atau tidak. Jika ya, akan ditanya lebih lanjut apakah masih banyak atau tidak. Karena apa? Komodo ini dapat mencium darah dalam radius kilometer. OMG. Untungnya, salah satu dari kami sudah berada di 'akhir pengunjung halangan' (ngerti kan ya?). Yang jelas, kalau masih hari pertama, atau pada saat 'banyak', ngga bisa satu Ranger saja yang menemani, minimal tiga, atau... yuk dada babayyyy!! Walaupun sedikit lega mendengarnya, kita pun tidak boleh jauh-jauh dari Ranger selagi trekking. Komodo bisa datang dari mana saja. Komodo memang besar, tapi dia bisa lompat. So... benar-benar kalo ingin mengabadikan moment ya harus lapor ke Ranger, jangan sampai rombongoan udah jalan jauh, kita krik krik sendiri, dan tanpa tongkat (ya! setiap ranger memiliki tongkat guna untuk menghadapi komodo yang agresif) bisa bisa LEP ama komodo *nakutin ya? it's fun kok, tapi kepekaan kita harus tinggi!


Jenis trekking yang ditawarkan terbagi 3; long, medium, short. Karena jadwal kegiatan hari ini padat, kami memutuskan untuk mengambil short trek saja. Senangnya, Asgar sangat informatif humoris sekali orangnya. Sungguh menyenangkan mendapat Ranger seperti ini! Kami di bawa ke spot yang ada komodonya, ada komodo cilik juga, ke sarang komodo, lalu mendaki bukit dan melihat pemandangan yang SPEKTAKULER. Sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di sini, saya selalu saja berlinang air mata. Indah banget!!!

Penginapan 
Bayi Komodo
Wallaaa... Si Komo sadar kamera jugaa hahahaha....
Bukannya iklan sponsor. Tapi memang cuma Telkomsel yang sinyalnya yahud di sini.
Sarang Komodo

Waktu yang kami habiskan di bukit ini cukup lama. Keputusan yang tepat memilih short trek karena untuk foto-foto di sini tidak akan bisa sebentar, sementara masih ada 2 tempat lagi yang harus kami datangi. Bukit ini pemandangannya bagus banget, kami bisa melihat kapal-kapa yang berseliweran menuju pulau ini, menuju Loh Buaya. Keren ngga? Aslinya lebih kueren!! Bener-bener seperti lukisan. Saya pun (yang masih amatir sama DSLR) menjepret sebanyak-banyaknya agar tidak menyesal dikemudian hari (masih belajar atur cahaya dll) hehehehehe.

Bukit ini adalah tempat terakhir dalam short trek ini. Setelah berpuas puas berjemur, melongo amazed sama pemandangan di bukit ini, kami turun dan istirahat sebentar, sekedar untuk ngadem. Saya pun menghabiskan minuman berelektrolit sebanyak 2 kaleng. Ya, selalu minimal 2 kaleng selama perjalanan saya di sini di cuaca yang sangat panas.

Buanglah sampah pada tempatnya. By the way, wow banget panas-panas gini minumnya malah Coca Cola!


Setelah selesai istriahat kami menyudahi perjalanan ini dengan Asgar. Tak lupa kami pun foto bersama. Saat kami bertiga berjalan menuju pelabuhan (tidak ditemani Asgar), kami melihat ada ranger yang searah dengan kami membawa rombongan. Jalan cepat agar tidak jauh-jauh dari rombongan, eh ternyata mereka tidak langsung menuju pelabuhan melainkan belok sebentar dan... can you guess?

There's a big dragon, unlike the others that laying easily on the ground, he WALKS!!! Si Komo jalan perlahan dengan lidahnya yang menjulur OK, dengan deg-degan kami tetap mengabadikan dengan gadget masing-masing sembari aware sama keadaan sekeliling, karena ini bisa dibilang kejadian langka bisa menyaksikan si Komo jalan. Happy yet thrilled watching this live!

momen yang menegangkan!!

Setelah kejutan barusan, akhirnya kunjungan kami benar-benar berakhir. Such an amazing trip and experience that I will never forget.

Pulau Kambing

Setelah seru-seru menegangkan di Pulau Rinca, perjalanan selanjutnya adalah snorkeling, spot pertama adalah Pulau Kambing. Entah kenapa dinamakan kambing, mirip pun tidak, hehehe. Katanya sih warna koral di sini beragam, jadi patut untuk disinggahi.

Selagi menuju Pulau Kambing, kami menyantap makan siang yang sudah dibuatkan oleh Faiz dan rekannya. The food so delicious! Rasanya untuk urusan perut kami bertiga akan tidak perlu khawatir selama hehehe.

Menu makan siang: sayur kuah, tahu goreng sambal kecap, terong tepung goreng dan pastinya... nasi!

Perut kenyang dan Pulau Kambing sudah dekat. Saatnya untuk snorkeling. Woo-hoo!! Sayangnya, saya kebetulan tidak dapat melakukan aktivitas ini karena sedang dalam pengobatan. Bisa saja sih mbandel nyemplung, tapi demi pemulihan yang cepat dan menghindari infeksi, lebih baik patuh sama perintah dokter, hehehe. Overall, menurut Dini dan Enggi lumayan bagus, cuma belum dapet gregetnya.

Pulau Kambing. Umm mirip kepala kambing kah?


Pink Beach

Beberapa jam menjelang sunset kami sampai di Pink Beach. Ketika kapal kami berhenti, ada dua orang lokal menggunakan kotok (sejenis sampan) yang menawarkan jasa 'ojek laut' menuju Pink Beach dan menawarkan aksesoris berupa gelang dan kalung. Di sini, kapal tidak bisa berlabuh ke tepi pantai karena selain tidak ada pelabuhan, akan merusak terumbu karang di sekitar pulau.


Bapak-bapak ini yang berasal dari Kampung Komodo––tempat yang akan kami kunjungi esok hari. Saya menggunakan jasa salah satu dari mereka, yang tidak begitu agresif. Well, salah satu dari mereka sudah pergi karena lebih menitikberatkan menawarkan cinderamata yang dia bawa. Karena kami tidak berniat belanja jadi kami tidak begitu tertarik dan dia langsung melengos pergi. Nah, Bapak yang saya gunakan jasa 'ojek lautnya' ini awalnya tidak menawarkan cinderamata. 
"Pak, pernah ada ngga Komodo yang berenang kesini?"
Beliau dengan sabar mengantar saya menuju Pink Beach dan menjawab segala pertanyaan yang terlontar dari mulut saya, bak anak kecil yang sedang kegirangan dan penuh dengan segudang pertanyaan karena sangat penasaran seperti. Bapak ini juga menemani saya berjalan di pantai, membantu mencarikan botol untuk menyimpan pasir.


Pantai ini disebut Pantai Pink karena warna koralnya yang merah, dan terdampar di pantai lalu diinjak-injak oleh pengunjung. Sehingga ketika pantai ini disinari oleh matahari, terlihat gradasi pink di seluruh pasir. Konon, dulu warnanya lebih merah. Namun, dikarenakan sudah banyak pengunjung yang menapaki pantai ini warnanya jadi sedikit memudar.


Enggi dan Dini pun sempat menepi ke pantai dan berfoto-foto, menjari koral yang sudah terdampar di pantai ini. Suasana di Pantai sore ini sangat romantis, sudah mulai menuju waktu sunset. Saya pun kembali ke kapal dengan ojek sedangan Enggi dan Dini berenang menuju kapal.

Ada kejadian yang bikin deg-degan. Karena sudah mau memasuki waktu sunset, menjelang malam arus laut sangat deras. Enggi dan Dini kesusahan menuju kapal karena arus laut berlawanan dengan kapal kami, akhirnya Faiz melemparkan ban yang diikat dengan tali dan rekannya terjun untuk menggapai Enggi, yang kebetulan tidak begitu mahir berenang. Bapak yang mengantar saya pun tidak langsung pergi namun membantu menuntun Dini menuju kapal. Saya yang termenung menyaksikan kejadian itu, sangat deg-degan seperti nunggu Arsenal mencetak gol namun sekaligus terharu melihat Bapak ini. Dia sangat baik, dan polos.

Sesampainya Enggi dan Dini di kapal, akhirnya Bapak ini pamit pergi, dia pun sedikit implisit menawarkan dagangannya. Melihat Bapak ini sangat tulus, dan terbuka, saya dan Enggi pun melihat-lihat dagangannya (sembari menunggu Faiz menyalakan kapal), dan saya membeli gelang mutiara hitam, Enggi membeli kalung, dan Dini pun membeli gelang mutiara putih untuk ibunya.

Ngos-ngosan terbawa arus

Akhirnya kami pun berpisah. Kapal kami berlayar kembali menuju tempat persinggahan terkakhir, Pulau Kalong. Pulau ini letaknya berada di seberang Pulau Komodo, letak menciptakan jarak antara kami dan si Bapak.

Bukan sponsor yaa hehehe!

Dari jauh saya melihat Beliau sangat kecil dibandingkan samudera yang membentang luas disekeliling kami. Begitu kecilnya sampan, arus yang deras, Bapak itu mendayung dengan segenap tenaganya pulang ke rumahnya, Kampung Komodo. Ketika tadi saya menaiki sampannya tidak melihat ada pelampung di situ. Semoga Bapak itu pulang dengan selamat dan kembali berkumpul dengan keluarganya. Sungguh tangguh kehidupan Bapak itu, kalau saya sudah nangis kali yah bolak balik naik sampan takut tenggelem. Lagi-lagi, hal simple yang kita alami dapat mengajarkan kita untuk selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.

Pulau Kalong

Sunset sudah dimulai, kami pun sibuk mengabadikan momen ini. Ya, bukan hanya untuk sekedang memposting untuk keperluan social media. Tapi, kami jarang sekali berlibur seperti ini. Dengan mengabadikan momen lah kita bisa mengingat dan kembali merasakan perasaan present time saat itu. Sampai sekarang saya menulis postingan ini pun saya masih suka merinding melihat ratusan foto yang saya jepret. Those moment are precious. Bersyukur bisa merasakannya.

Dini dan Enggi yang juga sibuk mengabadikan moment

Suasanya sekitar kapal sudah gelap, ada beberapa kapal juga yang ikut bermalam bersama kami di sini. Ya, sama seperti di Pink Beach, kami menaruh jangkar beberapa ratus meter dari pulau. Jadi, kalau beberapa saat kemudian kita menoleh sekeliling, kapal tetangga sudah berada di sisi kanan kami, sisi kiri, muter-muter lah intinya hehehehe.

Makan malam juga sudah siap, kami santap dengan lahap karena memang sudah kelaparan seharian pecicilan kesana kemari. Masakan Faiz dan Ace ini yahud bangetlah. Untuk kami bertiga selalu habis, kalau pun nyisa, it less than one portion for a person.

makan malaaaamm

Sudah malam... dan yang sangat kami tunggu-tunggu adalah STARGAZING! dengan lantunan lagu di laptop dini, volume maximal, dan beberapa lagu dari iPad saya yang di sync. Salah satu lagu yang sangat menunjang momen kami adalah Bliss – Kissing. Baik sunset maupun stargazing, lagu ini sukses membuat kami mengawang-ngawang. Enggi dan Dini pun sangat suka lagu ini.

iya biasa aja (masih belajar) hiihihihi, aslinya bertaburan banyak banget!
Malam itu kami bertiga sangat terbawa suasana. Bisa saya bilang, perasaan merasa baru kenal Dini dan Enggi beberapa hari itu ngga ada sama sekali. Percakapan apapun mengalir dan terbuka begitu saja. Beginilah traveling. Belajar berpikir terbuka, dan menerima secara terbuka. Seize the day, enjoy the moment through my eyes, feel the air through my nose, and take a very deeeeeeep breath and release it– embraced everything around. I feel so blessed. And I miss my husband. He was in Tokyo at that time. We sent pictures, just to make us felt that we were together.

to be continued...

No comments :

Post a Comment