EKSPLOR INDONESIA: Flores, NTT (Part III)
Live on Board, Day 2
Journey to Komodo Island – Manta Point – Kanawa Island

23 Maret 2014

Live on Board – Day 2

Psssttt... Din, Riiin... ayo bangun, liat sunrise!!!

Kenapa selalu Enggi yang bangun duluan ya? :P

Hoaaahm, tak terasa hari sudah pagi, tidur pun nyenyak, tidak seperti hari pertama menginap––tidur kepanasan, keringat seperti lagi sauna (karena tidak mandi untuk beradaptasi). Dini masih setengah sadar, saya bangun duluan... lalu heboh memanggil Dini untuk segera bangun. Bagaimana tidak heboh, pemandangan yang saya lihat di pagi hari ini benar-benar SPEKTAKULER!!! Laut yang biasa bergelombang menjadi diam tanpa ada riak, pulau-pulau sekeliling yang pada saat musim panas berwarna hijau kuning keemasan begitu itu diterpa sinar mata hari yang perlahan muncul dari persembunyiannya. Jantung saya langsung berdegup dengan kencang. Kami bergegas mengambil gadget, ini NAIK ke atap kapal, ngga pake cuci muka, ngga pake sikat gigi, semua terlupakan sudah. SEIZE THE DAY *merentangkan tangan, menarik napas dalam-dalam, embracing the moment.

Enggi yang kegirangan,  yes we are!!!
Cruise dari Jepang sudah singgah di Loh Liang (Taman Nasional Komodo), tanda aktivitas hari ini sebentar lagi akan di mulai. 

Tujuan hari ini adalah:
  • Pulau Komodo: Kampung Komodo & Taman Nasional Komodo
  • Manta Point (snorkeling spot––suatu area di laut lepas yang kalu kita beruntung bisa melihat langsung Manta/Pari raksasa berenang bebas di sana)
  • Pulau Bidadari Pulau Kanawa

Kampung Komodo, Pulau Komodo

Sebelum memulai petualangan ke Taman Nasional Komodo, kami singgah terlebih dahulu di Kampung Komodo. Dini, dalam perjalanan ini membawa misi untuk  mengumpulkan informasi untuk kegiatan ecotourism-nya, IDwanderlust, yang sudah dirintis bersama kawan-kawannya sejak awal tahun 2013. 

Traveling bagi saya sudah seperti perjalanan spiritual, you'll learn a lot on your journey(s) and in some way you fell you're... alive and blessedI am an enthusiastic person, a wanderer; wanderlust. Believe it or not, God works in a mysterious so that I met Dini and here I am in Flores.

Dari jauh, penampakan Kampung Komodo ini sangat colorful. Rumah-rumah sederhana yang berjejer menghadap laut terlihat indah.

Kampung Komodo

Kami di sambut oleh Pak Raisin, beliaulah akan menemani kami mengelilingi Kampung Komodo untuk melihat langsung kegiatan sehari-hari penduduk lokal. Banyak anak-anak yang ikut membututi Pak Raisin, suasana pun menjadi ramai. Kami senang karena jadinya jalan-jalannya rame hehehehehe.

Beliau lahir dan besar di kampung ini. Mirisnya, banyak pendatang yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo tidak berkunjung kesini, padahal letaknya sangat dekat lho.

Kondisi PAUD yang sangat sangat minim
Kondisi Puskesmas Pembantu (PUSTU) Komodo

Di atas sana, sekolah alam sederhana yang terbuat dari kayu, CMIIW

Kondisi bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Puskesmas Pembantu (PUSTU) pun sangat sederhana––menurut saya PAUDnya jauh dari layak. Kami juga mengunjungi Sekolah Dasar (SD) Pulau Komodo. SD yang berdiri 1 Januari 1978–sekarang ini struktur bangunannya cukup kokoh, bisa dibilang cukup layak untuk digunakan. 

Tidak bisa dipungkiri, jarak dari Kampung Komodo menuju Labuan Bajo cukup jauh. Keadaan ini tidak begitu menguntungkan penduduk setempat. Mereka sebenarnya juga menawarkan jasa live on board serta kesempatan untuk menginap bersama penduduk sini. Jarak pun begitu terasa apabila terjadi hal-hal yang membutuhkan tindakan scepat, seperti melahirkan dan orang yang sakit keras.  They are looking foward for the support. Jika hal mendasar seperti MCK umum dan fasilitas sehari-hari dapat ditingkatkan dan layak, baik dokter, tenaga pengajar pendatang, serta pelancong pun akan tertarik dan merasa nyaman untuk tinggal di sana.

Di atas bukit yang letaknya tidak jauh dari SD Komodo terdapat Sekolah Alam yang menurut cerita didirikan oleh para pendatang dari Jakarta. Para pendatang ini sering kemari dan menetap berbulan-bulan mengajarkan bahasa Inggris untuk anak-anak di Kampung Komodo. Sang Pencipta Maha Adil, disamping jarak yang menyulitkan mereka untuk mendapat informasi lengkap, masih ada orang-orang yang datang secara sukarela mengajarkan ilmu hanya semata-mata karena perduli dengan kemajuan generasi penerus bangsa.

Sudah lumayan banyak generasi muda ya 'melek' untuk turut serta membantu masa depan generasi penerus bangsa, seperti Pengajar Pemuda, dan kedepannya semoga ecotourism yang Dini rintis pun dapat turut serta memajukan generasi penerus kita. Aamiin.

Sangat sulit bagi kedua anak kecil ini untuk hidup di daerah yang tropis (albino sangat sensitif dan rentan terhadap matahari) 

Saya sangat berharap kedepannya banyak pelancong yang juga mengunjungi Kampung Komodo. Singkat kata, bantuan pendatanglah (tiket masuk dan sumbangan sukarela) yang dapat membantu dengan cepat majunya kehidupan di sini. Niat saya selain untuk mengabadikan pengalaman saya melalui tulisan ini, juga dapat mengajak pembaca untuk tertarik mengunjungi tempat ini :)

Taman Nasional Komodo, Pulau Komodo

Suasana di Loh Buaya pagi ini sangat padat kapal, tanda banyaknya pengunjung yang mendatangi Taman Nasional Komodo (ditambah adanya cruise dari Jepang). Dibandingkan dengan Pulau Pudar dan Pulau Rinca, Taman Nasional di Pulau Komodo ini adalah taman terbesar (dan yang paling terkenal)––Pulau Rinca menurut saya suasana adventurenya lebih terasa di alam bebas, dan yang ganas-ganas nestednya di sini hiiiiiyyyyy––sehingga terlihat lebih komersil dibandingkan dua taman nasional lainnya.


Kami memilih medium trek dan waktu yang di habiskan di Taman Nasional Komodo sekitar... TIGA JAM (luas bangetttt!). Dalam perjalanan menuju Sulphurea Hill di depan kami ada SI KOMO besar yang (untungnya) berjalan menjauhi kami, eng ing eng!! *doi malu-malu aja sukses bikin kami berdiri mematung ngga berani nyalip! lalu ada juga burung kakak tua jambul kuning yang terbang bebas.
"Ohayou gozaimasu (selamat pagi)"
Yap, tepat sekali! kalimat itu yang sering kami ucapkan sepanjang trekking di Taman Nasional Komodo ini. Banyak sekali turis Jepang yang datang, dan mereka sudah lanjut usia! Sudah rahasia umum kalau orang Jepang terkenal memiliki etos kerja yang sangat tinggi, sehingga di hari tuanya yang mereka lakukan adalah menuai hasil, salah satu cara untuk menikmati hasil jerih payah mereka adalah bepergian ke seluruh penjuru dunia.

Salah satu turis secara tidak sengaja mengobrol dengan kami (berawal dari saya yang sedang jajan, dan dia bertanya, dalam bahasa inggris yang surprisingly very fluent, bertanya apa ada snack yang bisa di jual di tempat saya membeli minum elektrolit tersebut). Ternyata, Bapak ini dulunya adalah dosen Bahasa Inggris di salah satu Universitas di Jepang. Dia pun adalah pekerja keras dan bangga bahwa bangsanya terkenal dengan etos kerja yang tinggi. Beliau datang ke Indonesia menggunaka cruise, dia berjanji membawa istrinya untuk menjelanjahi dunia.
“I promise my wife before we get married that I am going to bring her traveling around the world. I've worked so hard when I was young and now, when we get old, I said to my wife that it's time to living my promise!”
ROMANTIS KAAAANNN???! Cruise ini akan menjelajahi 5 benua selama 6 bulan; Australia–Indonesia–Eropa–Afrika–Amerika Selatan. Oooohhh I miss my husband!!! *duileeeehhh~~

Pemandangan di atas Sulphurea Hill

Manta Point –– Pulau Kanawa 

Perjalanan kami lanjutkan ke Manta Point dan Pulau Kanawa. Rencana awalnya kami sebenarnya bukan Pulau Kanawa, melainkan Pulau Bidadari. Namun karena kita terlalu terlena melihat si Komo, ditambah dengan jarak Pulau Bidadari yang jauh, akhirnya setelah selesai snorkeling di Manta Point Faiz membawa kami ke Pulau Kanawa––letaknya sekitar 10 kilometer dari Labuan Bajo.


Menurut Dini dan Enggi, di Manta Point ini lebih seru jika melakukan diving. Kita bisa lebih mengeksplore keindahan bawah laut dan peluang untuk bertemu Manta (Pari raksasa) pun akan semakin besar. Sayang di kesempatan ini mereka tidak dapat bertemu dengan Manta. Pengunjung siang ini lumayan banyak, ada 2-4 kapal yang datang dan pergi selama kami di sini. Mungkin itu lah salah satu penyebab Dini dan Enggi sulit menemukan Manta, Mantanya ngumpeeettt maluu banyak orang hehehe. Walaupun saya hanya di atas kapal saya masih dapat menikmati pemandangan bawah laut ini.

Cuaca perjalanan dari Manta Point menuju Pulau Kanawa tidak begitu bagus, karena sedikit mendung. Namun cuaca kembali cerah di tengah kunjungan kami di sana, sehingga kami pun dapat menikmati keindahan Pulau Kanawa yang terpapar sinar matahari. 

Pulau Kanawa 

Selfie dolo kakakkkk!


Dini dan Enggi berenang menuju Pulau Kanawa, mencari tahu apakah ada yang bisa mengangkut akoooh yang  masih duduk manis di kapal. Yeeeees, kapal kami tidak bisa dekat-dekat menepi, kapal kami pun tidak boleh menaruh jangkar, hanya dengan bola-bola berat yang tersedia guna menjaga koral yang ada di sekeliling pantai––untuk mendapatkan bola ini kita harus ngantri, nunggu ada kapal yang pergi. Akhirnya, ada canoe karet milik pulau ini menjemputku––beserta adegan hampir tenggelem karena turun dari kapal ke kotok ini kaki saya menekan canoe yang mengakibatkan canoe ini menjauh dari kapal, untuk akoh pegangan dan ada Faiz, FIUH!!


Surga kecil. Begitulah sebutan untuk pulau ini. Pulau yang memang ukurannya kecil ini memiliki keanekaragaman hayatinya memang sungguh indah. Dini, Enggi beserta rekannya Ace merasa puas sekali melihat keindahan bawah lautnya––foto underwaternya bisa diintip lho di blog Dini. Dini pun menemukan banyak bintang laun di sana, di dekat saya main air juga ada bintang laut, gemes sekaliiiii. Hmmm, bisa dibayangkan ya kalau kita menginap di sini. Di pagi hari laut surut dan kita bisa melihat dengan jelas terumbu karang, bintang laut dan lain sebagainya di hamparan pasir putih pulau ini. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai akomodasi pulau ini bisa di lihat di sini.


Time to go home.... Nggak ding! waktunya sekarang kami kembali ke Labuan Bajo. Menikmati sunset terakhir kami di lautan yang luas ini. Pemandangan sore ini sangat indah, seakan akan lautan memberikan ucapan selamat jalan terindah untuk kami. 


Sesampainya kami di Labuan Bajo, tak lupa doooong kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Faiz dan Ace yang sudah membawa kami berkeliling (dan direpotkan) selama dua hari ini. Okehh, foto full crew:


Kapal kami seperti apa sih? Kapal kami kecil, cocok dengan kami yang hanya bertiga, namun bersih dan nyaman. Saya termasuk orang yang tidak bisa tidur kalau kasur banyak serbuk (pasir, kotoran, debu), tapi tempat tidur kami yang sederhana ini bersih dan tidak berbau. Selama perjalanan ini saya tidur menggunakan second skin, semacam sleeping bag yang tipis, anti nyamuk, jadi merangkap sebagai selimut juga. Biaya total yang kami keluarkan untuk Live on Board selama dua hari satu malam (include makan 3x1 dan keliling tempat-tempat di atas) ini adalah sebesar Rp 2,800,000,- atau Rp 933,000/orang.



Malam ini saya dan Dini kembali menginap di Kharisma. Setelah menaruh barang, kami bergegas untuk mencari tempat makan untuk malam ini. Pilihan kami jauh kepada Tree Top, seafood restaurant. Setelah puas makan kamu kembali memantapkan rencana kegiatan kami selanjutnya: menjelajah desa di atas awan, WAE REBO!

to be continued...

Comments

Popular Posts