EKSPLOR INDONESIA: Flores, NTT (Part IV):
Labuan Bajo – Ruteng – Iteng – Dintor

23 Maret 2014, malam hari


Pilihan tempat makan malam di hari minggu ini adalah Tree Top, terletak di Jl. Soekarno–Hatta. Suasana tempat makan pada malam ini cukup ramai. Tree Top terdiri dari 3 lantai––lantai 1  lebih ke entertaining spot, terdapat meja billiard. Pajangan etnik yang menghiasi sekeliling dinding, membuat rumah makan yang terbuat dari kayu ini menjadi unik. Makanan yang disediakan adalah makanan asia, menu yang pas untuk si perut lapar! recommended because it's a good place to eat with a good food and budget friendly.


Setelah selesai makan, kami bertemu dengan 3 rekan kerja Enggi untuk mematangkan rencana saya dan Dini berkelana ke Wae Rebo. Rencananya besok pagi kami ke Ruteng dengan travel, lalu menuju Wae Rebo Lodge––tempat singgah dan bermalam sebelum pendakian ke Wae Rebo––menggunakan ojek dengan estimasi perjalanan selama.... jeng jeng... EMPAT JAM! Yap, siap-siap pantat teposss 4 jam naik motor.

24 Maret 2014

Sebelum dijemput travel, kami sebisa mungkin menyempatkan untuk sarapan karena perjalanan ke Ruteng memakan waktu kurang lebih 3-4 jam, dan saya akan menggunakan kesempatan selama perjalanan ini untuk...TIDUR. Hehehehe, perjalanan ke Ruteng sangat berliku-liku, kanan bukit kiri jurang––jangan bandingkan dengan lintas Sumatera. Jadi daripada mabok, lebih baik tidur untuk menyiapkan tenaga.

Perjalanan ke Ruteng menggunakan jasa travel Gunung Mas dengan harga Rp 75,000,-. Kami berangkat pukul 7. Sistem jemputnya door to door. Sesuai plan, kami akan tiba tepat saat makan siang. Di Ruteng kami minta diturunkan di Rumah Makan Pade Doang, yang terletak di Jl. Adi Sucipto No. 8.


Sesampainya di Ruteng, kami mengontak ojek yang sudah dipesan kemarin malam––kebetulan adik dari rekan kerja Enggi dan temannya lah yang akan mengantar kami ke Wae Rebo Lodge. Kami juga mengontak kembali Pak Martin, sang pemilik penginapan, untuk mengabarkan bahwa kami sudah setengah perjalanan.

Untuk memesan penginapan Wae Rebo Lodge milik Pak Martin kami perlu mengontak beliau setidaknya sehari sebelum jadwal keberangkatan kami dari Labuan Bajo. Hal ini dikarenakan keterbatasan sinyal di sana. Selain itu, beliau juga mencari orang gunung(orang Wae Rebo) untuk mendampingi pendakian kami nanti, yang dapat dijumpai di pagi hari di pasar setempat––Orang Wae Rebo sudah biasa naik turun gunung untuk membawa hasil panen mereka ke pasar.

Menu makan siang ini tidak lain tidak bukan adalah nasi goreng. Makanan yang paling ringkas, hehehe. Saya pun sempat shalat dulu di salah satu masjid dekat Rumah Makan Pade Doang. Udara di Ruteng sangat sejuk, berbeda dengan di Labuan Bajo, bayangkan Ruteng seperti Lembang dan Labuan Bajo seperti Jakarta di musim kemarau. Setelah selesai makan dan shalat, tak lama setelah itu dua orang yang akan mengantar kami, Jonas dan Ardi, datang. Jonas adalah adik dari rekan kantornya Enggi, sedangkan Ardi adalah temannya Jonas. Saya naik motor Ardi, Dini naik motor Jonas dan berjalan duluan sebagai pilot perjalanan ini.

Petualangan dimulai: naik ojek estimasi waktu 4 jam!!!

Misty road at Kawasan Hutan Lindung, Ruteng, Manggarai.
Pulau Mules

Pegunungan, savanna, pesisir laut, semua kami lewati. Menggunakan motor lebih menyenangkan karena selain angin sepoi-sepoi, kemungkinan untuk mabok nol besar! hehehehe (tapi pantat teposs). Saya puas banget melihat pemandangan yang berganti-ganti, perjalanan menjadi tidak terasa lama. Penduduk di sini pun sangat ramah. Jangan segan-segan untuk berdadah-dadah dan nyengir kuda. Di sana, saya selalu melambaikan tangan setiap melewati ladang sawah dan perumahan dan disambut lambaian tangan serta senyum hangat dari mereka––kalo di sini kan paling dikasih muka plongo dengan tulisan di jidat "elo siape?" hahahahahahaha.

Ada kejadian yang bikin deg-degan selama perjalanan ini. Saya dan Dini TERPISAH! Nah lho, bingung kan??? sinyal pun susah. Jadilah Ardi bertanya ke setiap belokan "permisi, tadi lihat motor seperti ini ngga (nunjukin foto Dini pose di atas motor––ada untungnya saya doyan cekrak cekrek)". Pikiran saya udah kemana-mana bak di fim action, apakah aku akan diculik? atau ternyata ini modus? Ah tapi ngga mungkin, karena kami kan bersama orang yang sudah dipercayakan rekannya Enggi, terus gimana kalo nyasar? ngga jadi naik gunung? sinyal mana sih? oh my God, dosa apa akuuuuu Gusti Nu Agung???!!

Beruntung akhirnya kami menemukan plang penginapan yang kami cari. Tapi, jalan yang ditempuh menuju kesana adalah––jalan aspal sepi menyisir pantai dihiasi pemandangan Pulau Mules. Udah ngga mood foto T_T


Setelah kami bolak balik di spot yang sama (sebenernya lebih karena ngga rupa tempat menginapnya seperti apa dan batang hidung Dini tidak muncul-muncul juga di situ), akhirnya ada seorang bapak muda memberhentikan kami dan bertanya "mau kemana?" lalu saya dengan spontan dengan tutur kata bak main tebak-tebakan karena masih panik "Pak Martin? Dini, Karina? Wae Rebo?" lalu beliau mengangguk. ALHAMDULILLAH akoh ngga nyasarrrr. Tapi kok, Dini belum muncul juga yah? jeng jeeeeengggggg~~~

Saya pun menunggu Dini sembari melihat handphone just in case ada sinyal. Tak lama kemudian terdengar suara motor dari kejauhan. YES!!!! DINI SAMPE, dan dia sempat tertidur dibalik kaca mata hitamnya. UZZZ... kok bica ciiih~~

Ternyata waktu tempuh dengan motor tidak sampai 4 jam. Karena hemat waktu kami dapat menikmati pemandangan sambil menunggu sunset. Kami disuguhi minuman pelepas dahaga sambil berbincang-bincang dengan Pak Martin. Beliau sudah mendapatkan pendamping untuk kami, besok jam 7 pagi kita mulai naik menuju Wae Rebo, supaya cuaca tidak terlalu terik dan yang ditakutkan akan turun hujan. Pak Martin adalah orang Wae Rebo yang sudah menetap di bawah. Misi beliau adalah untuk terus menerus melestarikan budayanya yang sudah hampir terlupakan oleh zaman.

Wae Rebo Lodge
Tengok kanan, hamparan sawah berlatarkan pegunungan
Tengok kiri, hamparan sawah berlatarkan lautan dan Pulau Mules 
Lihat bukit kecil di tengah sana? ya! kami esok akan ke sana, Wae Rebo terletak di balik bukit itu
Penginapan  ini dibangun oleh Pak Martin dan istrinya. Dari Bapak beliau sampai keturunan Pak martin sekarang sudah menetap di sini. Sesekali masih berkumpul kembali ke Wae Rebo.
Sinar matahari yang sudah mulai berwarna jingga, tanda sebentar lagi malam
Pulau Mules di sore hari

Sunset. Sejenak lupa dengan lelah karenanya


Indahnya Flores! lautan √, daratan √, dan esok pegunungan. Mari istirahat.

to be continued...



Comments

Popular Posts