Candi Borobudur & Matahari Terbit


Beranjak dewasa, berwisata sudah tidak lagi seperti dulu. Kalau sewaktu kecil kita terima jadi, dan ngikut saja kemana orangtua pergi, sekarang perjalanan seperti ini terasa lebih hidup karena kita benar-benar melek dengan keadaan sekitar (we've grown!).

Bangunan-bangunan religius selalu menjadi objek wisata yang menarik perhatian saya, apapun itu. Menurut saya, bangunan-bangunan tersebut sangat sakral dan selalu menawarkan aura spiritual yang sangat syahdu––mungkin karena bangunan tersebut juga mempunyai nilai historis yang sangat tinggi. Candi Borobudur adalah salah satunya. Dari sekian banyak candi yang berada di dunia, Candi Borobudurlah yang memiliki koleksi relief Buddha terlengkap. Ukuran candi yang luas pun menjadikannya sebagai monumen Buddha terbesar di dunia. Jadi sangat wajar sekali bila UNESCO pernah menjadikan Candi Borobudur sebagai  salah satu dari situs warisan dunia atau yang lebih kita kenal sebagai tujuh keajaiban dunia.

Saya suka sekali foto sunset, kebanyakan orang juga sukaSelain romantis-romantis gimanaaa gitu, saya juga ngga perlu capek-capek bangun pagi untuk menikmati sunset hahahahhaha. Namun, semua itu berubah setelah perjalanan saya ke Flores tahun lalu, bagi saya sunrise tidak kalah indahnya loh––jauh lebih megah! Bagaimana tidak? waktu itu saya menyaksikan sunrise di tengah hamparan lautan yang luas. Pemandangan beserta suasanya yang hening dan syahdu itulah yang membuat saya langsung jatuh cinta sama yang namanya sunrise. Arti sunrise bagi saya adalah harapan, optimis, dan semua jerih payah terbayar (karena keindahannya)! Don't get me wrong, I love both sunrise and sunset––matter of fact, I LOVE SUN! (kurang bukti apa hayo? saya berdarah tropis, pake AC aja kadang kedinginan, mandi air dingin aja juga biru tangannya, terus ntar kalo punya anak namanya harus ada arti mataharinya *gak nyambung!*)––But if I have to choose, I will prioritise sunrise on my list :) 

And for this moment I will see sunrise from the top of Borobudur Temple! Ye-ha!!

How?

Jadi, pagi pagi pagiiiiiii sekali di hari terakhir saya di Jogja, berdasarkan jadwal saya akan dijemput oleh Kresna Tour pukul 04.00 pagi. Awalnya saya sangsi kesiangan untuk naik ke Candi Borobudur. Karena sebenarnya paket yang ditawarkan oleh mereka adalah melihat sunrise di Punthuk Setumbu, sedangkan saya request diturunin di Manohara Hotel, akses satu-satunya untuk melihat matahari terbit di Candi Borobudur. Dari yang saya ketahui rombongan akan naik ke atas pada pukul 04.20 dari Manohara Hotel. Tapi dengan cuaca yang semalaman hujan tiada henti, saya memprediksikan matahari akan seneng ngumpet di balik awan, yang artinya akan ada waktu yang cukup lama menantikan dan menyaksikan sunrise walau saya berangkat pukul 04.30.

Akhirnya Elfnya Kresna dateng menjemput di tempat saya menginap, lalu menjemput yang lainnya di tempat penginapan yang berbeda (door to door system). Dalam perjalanan ini.... saya tidur karena kemarin seharian JALAN KAKI (bener-bener ga ada kerjaan) dari Malioboro ke Taman Sari dan masjid bawah tanahnya, lalu naik becak ke halte TransJogja untuk pergi ke Prambananan (tak sempat ke candi lainnya karena sampe sana pun agak mendung dan sudah soreee, next time!!!) baru di sana bertemu teman saya dan bisa sedikit leha-leha di mobil. Ohya, menggunakan TransJogja dari daerah dekat Taman Sari ke Prambanan tidak ada yang langsung, harus turun di halte Bandara Adisucipto lalu lanjut naik Bis 1A ke arah prambanan (jangan yang ke arah kota, balik lagi ntar) rutenya bisa di lihat di sini. Selain di halte-halte tersebut mereka juga turun di halte-halte kecil, karena saya waktu itu ngga turun di Bandara, sayangnya lupa nama haltenya huhu.

Mobil berhenti, saya secara otomatis terbangun. Ternyata sudah sampai di depan Manohara Hotel  saya turun duluan. Saya diberi kartu nama si Pak Supir––jaman sekarang udah kece, doi ngga perlu ngomong, di kartu nama udah jelas tertulis hello my name is... my phone number is... terus balik kartunya dan we've meet at 9 a.m at Rambutan Restaurant at Borobudur's Temple Parking lot. Saya bergegas berlari ke dalam Hotel, karena udah jam 5an, dan langit sudah mulai terlihat biru. Benar saja, saya naik sendirian. Kata recepcionistnya sudah ada 30an orang di atas sana. WOW banyak! Berbekal senter yang diberikan pihak hotel, sticker visitor di dada dan tas yang saya bawa, saya meraba-raba jalan melihat sign ke arah candi dengan saksama, kalau pun nyasar pasti ada priwitan. PRIIIIIT, suara priwitan terdengar dari jauh dan ketika saya nengok si penjaga sudah mengarahkan senternya ke arah berlawanan jalan yang saya tapaki, nah kan bener nyasar! Hosh hosh hosh, pagi buta dan berkabut naik tangga lalu fiuuuuh.... sampai juga lah saya ke atas Candi.

Mana turis lokalnya? Uh, lagi-lagi malah saya yang merasa menjadi foreigner hahahahaha. Yasudahlah, cengar-cengir sajaaaaah yang penting AKHIRNYA AKU KESINIIII lagiiii!!!!! Satu kata: amazing. Memang cuaca tidak seindah yang diperkirakan; kabutnya sangat pekat, awan masih sedikit mendung karena hujan semalaman, gradasi cahaya nyaris bias (keliatan banget kalo foto pake hp, ya begitu tebelnya si kabut), matahari pun nampaknya ogah-ogahan keluar dari persembunyiannya di balik awan. Ada kalanya kami saling tunggu menunggu di salah satu spot patung Buddha menghadap ke timur untuk menantikan sang matahari terbit dan memaparkan sinarnya ke bebatuan candi. Namun, ketika momen itu tiba, saya tengok kanan kiri kok pada ngga ada orang? kemana mereka yang sibuk nungguin spot tadi. Saya melihat jam. Ternyata udah hampir 06.30, mungkin sudah pada sibuk di tempat lain. Tidak dengan saya––yang tadinya saya pasrah hanya bisa mereka momen indah ini hanya dengan mata tiba-tiba mendadak kegirangan ketika matahari sedang mengintip kami dibalik awan. Berbekal kamera dan hp saya pun langsung menuju TKP favorit dan foto dengan leluasa––tepatnya saya dan salah satu turis asing, seorang ibu-ibu.



"it's very nice when everybody's not around"
Totally agree! kami pun ganti-gantian berfoto. Oh enaknyaaaa. Candi serasa milik berdua. Dan kami pun mengelilingi bagian atas candi, berhenti dan bergantian foto. "This is very nice too", doi menimpali. Nampaknya beliau sudah expert dan kameranya juga sudah wow! but still humble and very kind. Kebetulan kami selalu berhenti di spot yang sama (saya berjalan berlawanan arah). Puas mengambil momen, saya turun ke tingkat bawah dan berpapasan dengan beberapa turis yang serombongan. Nampaknya mereka keasyikan di bawah. Ada couple lansia juga. Iseng deh saya, daripada mereka sia-sia dateng kesini, saya kasih liat spot oke tadi ke mereka karena kebetulan juga  waktu itu pas mataharinya lagi ngga ngumpet juga, sekalian saya kasih hasil fotonya, langsung mlanga mlongo doi dan bergegaslah mereka di sana. Tidak lama kemudian, tadddaaaa... banyak anak sekolah masuk memenuhi atas candi. Uzzzz. Semua bule didatengin minta foto bareng. Eike? dikacangin bak kacang goreng. Yauwiiisss, saatnya turun dan sarapaaaaaan...










Akses untuk saya keluar Candi tidak lewat akses umum, saya mengetahuinya karena pas mau turun dicegat penjaganya dan dialihkan ke tangga dekat tenda putih. Fiuh, kebayang kalo dicegatnya pas dibawah. Setelah sarapan, saya mengembalikan senter yang diberikan oleh pihak Manohara Hotel untuk ditukarkan dengan souvenir lalu beranjak ke parkiran umum Candi Borobudur. Pulang dengan senyum lebharrrrr. Yippieeee!!!

Senang sekali dengan keputusan saya untuk melihat sunrise di Candi Borobudur. Karena ketika kurang lebih jam 7 saya melihat salah satu rombongan yang satu mobil dengan saya sudah berada di puncak Candi, jadi bisa diperkirakan deh mereka bergerak dari Punthuk Setumbu jam berapa––mana musim hujan begini, becek, masih kabut semua mungkin yang terlihat, I don't know. Saya merasa untuk musim penghujan ini lebih baik melihat sunrise dari sini. Mungkin jika musim kemarau nanti, boleh lah saya coba melihat sunrise di Punthuk Setumbu, karena selain bisa melihat siluet Candi Borobudur yang diselimuti kabut, kita juga bisa melihat matahari terbit dari gunung merapi––benar-benar sekali mendayung, dua tiga pulai terlamapaui hahahaha alias paket hemat (karena memang lebih hemat via Puntuk Setumbu).

So what is next venue for sunrise? Mt. Agung, Bali? Bromo? Or... Sanur Beach? We'll see, aamiin!!!!!





Kresna Tour
Paket K1 –– Borobudur Exotic Sunrise at Setumbu Hill
without breakfast IDR 90,000,- per person
with breakfast IDR 105,000,- per person

Sunrise at Borobudur via Manohara Hotel
Foreigner Visitor : IDR 380,000,- per person*
Domestic Visitor : IDR 250,000,- per person*
In house guest (who staying at Manohara): IDR 230,000,- per person*
*)The rates above include tea/coffee, light snack, and souvenir
For more details, contact :
sales@manoharaborobudur.com

No comments :

Post a Comment