Gunung Padang Megalithic Site
Cianjur, West Java, Indonesia


Minggu kemarin saya diajak Dini untuk melakukan Pioneer Trip bersama tim Wanderlust Indonesia-nya (Syahira, William, Akbar, Dini Latifah), serta Reza dari Geotour Indonesia ke Gunung Padang, Cianjur. Pioneer Trip ini dilakukan untuk survey keperluan kegiatan Wanderlust Indonesia yang tujuan destinasinya sudah semakin banyak! Horeee!!

Dengan sistem buka tutup jalan di Puncak, perjalanan kami terbilang lancar dan tepat waktu tiba di tujuan. Namanya road trip pasti ngga afdol kalo ngga berhenti-berhenti, apalagi liat buah macam duren sama rambutan hahahaha. Sebelum memasuki tempat wisata Gunung Padang, kami pergi ke Stasiun Lampegan yang letaknya tidak jauh dari sana. Terdapat terowongan peninggalan jaman Belanda yang jadi spot oke untuk berfoto dan sedikit meregangkan otot setelah duduk lama di mobil (padahal habis makan duren!). Terlena foto-foto membuat kami lupa menanyakan kondisi tiket pulang untuk esok hari dengan tujuan Bogor yang ternyata malamnya kami cek sudah habis.


Selain ingin melihat dan menikmati keindahan alam di Situs Megalitikum Gunung Padang, agenda kami adalah mengunjungi desa setempat untuk melihat cara pembuatan gula aren dan SD setempat, Madrasah Ibtidaiyah Cimanggu, untuk melihat-lihat dan bertanya ke kepala sekolah apa saja kira-kira yang bisa dilakukan untuk kolaborasi proyek sosial antara Wanderlust Indonesia & Geotour Indonesia pada trip selanjutnya.

Tempat pembuatan gula aren

Untuk menaiki Situs Gunung Padang ini kita diberikan dua pilihan, yaitu dengan menapaki tangga peninggalan situs yang terbuat dari tumpukan batu yang cukup curam dengan waktu tempuh lebih cepat dan semakin ke atas pemandangan yang disuguhkan semakin indah. Atau, tangga buatan yang terbuat dari semen, sangat landai namun waktu tempuhnya sedikit lama karena mengelilingi sisi gunung.

Menaiki tangga peninggalan situs bisa dibilang sebalai "latihan mendaki gunung". Sesampainya di atas sepi, karena kami start naik pukul 16:30 dan di atas sampai disuruh turun karena sudah magrib, yang ditandai bunyi-bunyian dari suara binatang. Kami puas sekali berada di atas, udaranya semakin sore semakin sejuk. Di beberapa spot sudah ada tempat sampah, keadaan situs ketika saya berada di sana pun bersih bebas dari sampah. Para guide ada yang standby di atas dan berkomunikasi dengan HTnya.

Mendaki paling awal, sampai paling akhir. Lalu PPS (Pulang Paling Semangat)
#GueMahGituOrangnya hahahaha

Sedikit bericara tentang sejarah Situs Gunung Padang yuuuukkkkk...

Situs Gunung Padang yang teretak di Desa Karyamukti ditemukan pertama kali oleh seorang peneliti asal Belanda, N. J Krom, pada  tahun 1914. Sebelumnya, situs ini belum dinamakan Gunung Padang. Situs ini pun sempat luput dari perhatian karena tidak memiliki nama. Sampai pada akhirnya tahun 1979 warga setempat melaporkan bahwa terdapat peninggalan purbakala ke Dinas Kebudayaan setempat. Setelah itu mulailah berdatangan peneliti-peneliti khususnya Pusat Peneltian Arkeologi Nasional.

You know what? Situs Gunung Padang merupakan situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara lho! Disebut situs megalitikum karena ini situs ini merupakan peninggalan kebudayaan zaman Megalitikum atau zaman batu besar. Situs ini sangat menarik baik bagi wisatawan lokal, asing maupun para peneliti dari berbagai negara. Konon katanya, situs ini dulu digunakan sebagai tempat pemujaan yang letaknya mengarah Gunung Gede (dulu masih memuja gunung). Reza, sang geologist alumni UNDIP dan sekarang sedang merintis Geotourism bernama Geotour Indonesia menceritakan tentang gunung padang dari sisi geologisnya. Jika diperhatikan, bentuk bebatuan di situs ini berukuran panjang dan bersegi lima dan disusun berkolom-kolom (columnar joint). Ini membuktikan bahwa situs ini benar dibangun oleh manusia. Ada pula bebatuan andesit yang dijadikan alat musik. 

Situs ini umurnya kurang lebih 80,000 tahun. Gunung Padang pada jamannya memiliki 5 fungsi yang dilambangkan dengan adanya 5 punden (teras) berundak. Teras pertama sebagai gerbang, teras kedua sebagai tempat ruang berkumpul, teras ketiga sebagai tempat untuk beraktivitas, teras keempat sebagai lampang yang luas dan teras ke lima yang paling tinggi adalah sebagai singgasana. Penduduk setempat menganggap tempat ini sebagai istana yang dibangun pada masa kejayaan Sunda, Prabu Siliwangi, sebagai tempat berdoa.

Standing Stones, taken by Reza

Karena keesokan mau lihat sunrise (ehm... inget kan postingan ini? jreeeng, the next sunrise now goes to Gunung Padang) kami memutuskan untuk menginap di rumah penduduk persis di depan pintu masuk situs. Kali ini kami akan mencoba naik dengan tangga semen, dan memang lebih lama ternyata walaupun landai. Benar-benar indah. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana. Cuacanya sejuk dan langitnya bagus. Jalan-jalan ke lingkungan terbuka memang sangat ideal di musim kemarau karena selain tidak hujan, rerumputan yang sudah mulai hijau menguning membuat pemandangan menjadi lebih indah. Perjalanan pendek seperti ini sangat ideal dijadikan perjalanan untuk keluarga atau sekedar weekend getaway untuk melepas penat. Yang saya suka dari sunrise di sini adalah perpaduan paparan sinar matahari, kabut, awan siluet gunung-gunung yang mengelilingi Gunung Padang. Saya ingin ke sana lagi lain waktu dan lebih niat buat mengabadikan sunrise *tulis ke dalam wish list!

Naik pukul 5an turun jam 8 (betah banget!), sarapan di warung Abah Dadi (sambelnya maknyus loh pedesnya) lalu bersiap-siap pulang. Karena kehabisan tiket kereta, kami pulang rencananya menggunakan bis ke Bogor. Ternyata, bis ke bogor turunnya tidak di barangsiang. Setelah lama menunggu bis tujuan bogor (dan setelah kenyang makan batagor) kami hampir memutuskan untuk naik bus tujuan Jakarta, namun akhirnya kandas ketika ada angkutan umum putih tujuan bogor. Yeayy! Dari Bogor kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing menggunakan kereta. Lebih efisien ketimbang duduk lama di bis ke Jakarta. 


This is a short roadtrip yang seru banget! meet new people always fun and fascinating for me. Seru kan? Menurut saya trip ke Gunung Padang ini worth it banget. Ngga usah jauh-jauh ke Machu Picchu atau ke Stoehenge, Indonesia juga punya kok di Cianjur, hehehehe. Selain menikmati suasa alam yang disuguhkan, menambah wawasan mengenai kehidupan prasejarah itu sangat menyenangkan.

How to get there? gampang kok. Kalian bisa naik mobil, bus (tujuan Cianjur), kereta (turun di stasiun Lampegan), atau travel. Menginap di sana juga terbilang mudah, lokasinya sudah sustain kok. Terdapat Desa Wisata yang dikhususkan sebagai tempat mengina untuk para wisatawan yang terletak tidak jauh dari situs. Atau,  kamu juga bisa bertanya ke rumah penduduk di depan pintu masuk situs (depan loket karcis). 

Buat kamu-kamu yang masih berjiwa petualang atau mau mencari pengalaman unik, bisa banget ikut Trip yang dibuat Wanderlust Indonesia berkolaborasi dengan Geotour Indonesia


Psssst... sedikit bocoran trip ini akan di adakan di akhri bulan Mei (30-31 Mei 2015). Please follow thier social media for more information. Sharing is caring!



Gunung Padang Megalithic Site
Desa Karyamukti, Kecamatan Cianjur
Cianjur, Jawa Barat 43215
Indonesia
Tiket (2015) IDR 4,000

Wanderlust Indonesia
Jl. Kayu Manis X 
Blok Sukun 8 No.6
Matraman, Jakarta Timur 13110
Indonesia
Phone:+62 811-9005-940
Twitter & Instagram: @IDWanderlust

Twitter & Instagram: @GeotourID

Comments

Popular Posts