Mudik dan Kuliner Lebaran
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Muka Muka Ngantuk Bahagia (dan timbangan masih kurus) Menunggu Panggilan Boarding

Halo halo haloooo...

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga Allah SWT menerima amalan dan puasa kita. Dan juga semoga kita masih bisa dipertemukan dengan bulan Ramadhan selanjutnya, aamiin.

Okay guys, mudik lebaran sudah benar-benar usai. Aktivitas pun sudah kembali seperti biasanya; bekerja, macet-macetan (masih belum parah) lagi di jalan. Apapun aktivitasnya, mumpung Ramadhan spiritnya belom kekikis banget, jangan lupa juga ya untuk SESEGERA mungkin mengganti utang puasa wajibnya, biar bisa dapet puasa Syawalnya juga. Dahulukanlah yang wajib, begitu kata para tetua.

Nah, pastinya di minggu minggu pertama setelah cuti bersama (dan cuti tambahan) biasanya pasti ada kegiatan halal bihalal dong!!! Kalau bulan puasa kemarin hebring bukber bareng, sekarang hebring halal bihalalan, ntar kalo udah ngga ada moment pasti ada aja moment yang dibikin-bikin: arisan. Mulai nyadar kan kita orang ini memang hobinya ngumpul pleus pleus (plues nongkrong, nyemil-nyemil cantik, eh UUN –– Ujung Ujungnya Ngarumpi, eleuh! *lah kok jadi nyunda?!)

Topik yang pasti ngga luput dari pembicaraan sekarang adalah: “How’s your Mudik Lebaran, Guys?” Pasti pada punya kenangan mudik dan berumpul dengan keluarga tersayang yang tak terlupakan, karena setiap tahun pastinya ada aja hal seru yang terjadi. 

Buat saya, Mudik Lebaran tahun ini menjadi sangat spesial karena InsyaAllah tahun depan kami akan move to Tokyo, Jepang, dimana si Cumi dimandatkan oleh kantornya untuk bekerja di Negeri Sakura itu selama 3 tahun. Kok Jepang? akan dibahas di postingan khusus nantinya. Nah, karena kami akan bye-bye selama 3 tahun (kami berharap bisa tetep mudik, kemungkinan untuk tidak bisa menikmati indahnya Ramadhan dan Lebaran di tanah air pasti ada juga) makanya lebaran ini saya puas-puasin deh menikmati fanashnya udara, segarnya rujak, mpek-mpek, martabak duren dan lain-lainnya yang pasti akan saya kangenin nanti.

“Apa saja sih kuliner wajib kami selama di Lhokseumawe? Apa yang unik dari mudik lebaran tahun ini?”

Seperti biasa, di hari lebaran kedua kami terbang dari Jakarta menuju Lhokseumawe via Medan, lalu lanjut menggunakan pesawat kecil menuju Bandara Malikussaleh. Kami berangkat pagi subuh dan tiba di Lhokseumawe siang hari. Tahun ini acara keluarga si Cumi ditempatkan di rumah tantenya di dekat rumah orangtua Cumi, artinya tahun ini kami tidak ke Banda Aceh, semua keluarga kumpul di sini.


Seperti biasa, setiap tahun saya membawa pempek. Karena pempek adalah makanan yang jarang di sana sehingga penantiannya sangat diharapkan dan selalu ludes seketika, padahal cukanya lumayan pedas!

Belajar dari pengalaman tahun kemarin yang belum sampai meja makan sudah habis di dapur diborong mamak mamak, kali ini saya bikin 2 kloter untuk di loading pempek ke meja makan, biar semuanya kebagian hehehehe. Pada malam sebelumnya untuk persiapan arisan dan kumpul keluarga ini, saya berkesempatan memasak Asam Keumamah! Senang sekali, nggak sabar mempraktikannya di rumah!

Mudik tahun ini lamaaa loooh, 9 hari!!! woo-ho!! Puas deh kangen-kangenan sama mama papa dan pastinya.... ku-li-nerrrr! *emang ya, perut mulu yang jadi urusan. Walau tahun ini kami tidak sempat ke BaseCamp Arun, ada beberapa kegiatan kuliner ‘rutin’ kami setiap mudik bisa saya abadikan tahun ini (karena selalu keduluan dilahap makanannya hahahaha!); 2 tempat wajib yang ngga pernah absen setiap mudik dan 1 tempat baru yang nggak kalah kece. Mari kita mulai...

SATE APALEH, GEURUGOK

Harga: IDR 2,500/tusuk – sajian per-piring: 20 tusuk/piring (2015)

Dulu waktu masih pacaran *cie* selalu penasaran setiap Cumi bilang lagi makan Sate Matang, kata dia enak banget. Hnah... pada tahun 2013 akhirnya saya kesampaian deh makan ini sate dan jatuh cintrong, sampai sekarang!

Dinamakan Sate Matang karena sate ini awalnya dibuat oleh penjual sate di daerah Matang, Matang Geulempang Dua, sebuah kota kecamatan di kabupaten Bireuen, Aceh Utara. Sate ini terbuat dari daging sapi. Menurut Cumi, Sate Matang di Geurugok lebih enak dibandingkan dengan Sate Matang yang di Matang-nya itu sendiri, daerah aslinya. Okelah~ ay percayeu sajeu~


Di Ruko ini ada dua kios Sate Apaleh, dua-duanya sama saja kok karena kios yang satu adalah ekspansinya, alias yang punya sama. Hehehehe. Karena tahun lalu kami makan di kios ekspansinya, tahun ini kami makan di kios pertamanya.

Tempat ini hukumnya wajib untuk disinggahi dalam perjalanan kami menuju rumah Minek (nenek) di gampong (kampung) dan biasanya kita sengaja menyisakan space perut demi sate ini, hahahaha. Menyantap sate ini nikmatnya dengan kuah kacang dan kuah bening untuk di seruput seruput bersama dengan suapan nasi putih. Nikmat~

MARTABAK DUREN

Lokasi: Jl. Listrik, Lhokseumawe
Via google maps kira-kira di koordinat (5.182657, 97.141739) lokasinya dari Bank Indonesia, belok kiri ke Jl. Listrik, tidak jauh dari situ sebelah kiri jualannya, buka dari sore-habis.
Harga: IDR 7,000 (2015)

Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Ini sebuah makanan kebanggaan bagi saya! Dulu, di akhir 2013 sewaktu Tueng Dara Baroe (unduh mantu), keluarga wong kito saya yang HOBI ngeduren dan suka lupa umur mencari cari dimana tempat makan duren yang enak. Singkat cerita, akhirnya berkenalanlah kami dengan martabak duren. Adik bungsu Cumi yang tahu lokasi martabak duren enak di dalam kota Lhokseumawe membawa kami ke Jl. Listrik. Sejak dari situ, makanan ini pun menjadi menu wajib tiap mudik (dan makin saya gembar gemborkan ke sepupu-keponakan Cumi yang tinggal Banda Aceh ketika main kesini, yang rata-rata masih sebaya–and they are addicted to it too!!)  


Ngiler kan lihat foto di atas, hahahaha. Dijamin enak! Karena dulu sempat disuguhkan di tempat lain, rasanya malah seperti roti canai pake duren, karena tekstur kulit martabaknya terlalu tebal jadi seperti makan roti. Kalau yang ini, setiap kami pulang (tiap tahun) rasanya konsisten, tidak pernah berubah. Teksturnya lembut banget dan racikan durennya selalu pas. 

Porsinya memang kecil, kurang lebih 10x10cm (sepersegi trackpad Macbook Pro lah kira-kira). Tapi, hati-hati juga buat yang punya gula tinggi dan kolesterol, ada baiknya urungkan niat dulu dan sehatkan kembali tubuh sebelum mencoba. Karena kalau nyicip sesendok dijamin kepengen ngabisin hahahahahaha!!! Tahun kemarin saya kena kolesterol kleyeng-kleyeng langsung ngefly sehabis makan ini (lalu lanjut udang dan lain-lain... yassalammm~).

PONDOK RUJAK YUSRA

Lokasi: Pesisir Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe.
Harga: IDR 7,000/porsi (2015)


Ada cerita unik nih tentang rujak. Jadi waktu itu saya dan Cumi mau ke Mie Bangladesh, niat pesan bungkus untuk makan bersama di rumah. Baru mau keluar rumah, Mama dan Papa pulang membawa bihun goreng dan rujak. Jadilah agenda Mie Bangladesh kami geser keesokan hari. Di cuaca yang luar biasa panas, makan rujak bikin seger banget. Ditambah dengan rujak yang Mama bawa kedondongnya lagi enak. 

Dari situ, sengaja dan tidak sengaja setiap sore hari kami makan rujak. Setiap ada yang keluar rumah  saya selalu nitip rujak, rujak dan rujak. Mama Papa pun kalau ditawari rujak ngga pernah nolak, karena juga doyan hahahaha!

Di hari ke tiga kami ngerujak, semua orang rumah bilang ini komposisi kuah rujak kali ini pas; kental dan pakai kacang (waktu Mama bawa pertama kali kuahnya encer dan tanpa kacang, lalu di hari kedua Cumi beli kekentalan kuahnya dibanding yang ini sedikit encer). Ternyata hari itu Cumi dan adik ipar bungsu dibawa sepupunya ke Pondok Rujak Yusra. Menurut sepupunya rujak yang enak di situ. Jadi penasaran buat makan di sana karena lokasinya di pinggir pantai, sudah terbayang nikmatnya  di sore hari. Nyammmm~


Lokasi dan penataan Pondok ini oke. Tidak heran selalu paling rame. Pengunjungnya mayoritas anak muda. Ada juga keluarga yang membawa anak-anak. Selain rujaknya enak, tempat ini masih memiliki akses ke pantai, sehingga anak kecil masih dapat main pasir dan mandi kecibak kecibuk. Dan, pohon di pondok ini cantik banget buat di photo. Mungkin, kalo saya ngga bilang, bisa kali dikira lagi di Bali ((DI BALI NGERUJAK)) atau di Lombok, hahahahaha.

Sayangnya, di sini mereka tidak menyediakan tempat sampah, sampah hanya di sapu dan dikumpulkan di satu titik dekat pantai tempat bermain––walau tempat ini lebih bersih ketimbang pesisir lain di sepanjang pantai Ujong Blang menurut saya. 

Di Pondok Rujak Yusra ini juga menyuguhkan menu lain selain rujak. Ohya, selama di sana saya ngga pernah pesan rujak pedes hehehehe, karena yang biasa pun enak dan lebih nikmat aja dimakannya. Sepertinya racikan di sini tidak seperti di daerah rumah saya yang menggunakan pisang kluthuk. Hanya gula merah/aren, cabe, garam, asam dan kacang yang dirajang kasar.

Makan rujak sore hari, dengan angin sepoi-sepoi, duduk di bawah pohon dan minum kelapa muada dengan perasan jeruk nipis itu endeus banget!! It’s wayyyy better than Jeruk-Kelapa!


Keesokan paginya, kami sarapan di sini membawa keponakan main air dan menyantap nasi gurih beserta lauk pauknya yang dibawa oleh tantenya si Cumi. Untuk minumnya, selain kami membawa kopi hangat dari rumah kami juga memesan di Yusra. Sudah biasa di sini ternyata, di pagi maupun siang membawa makanan dari luar, selama tetap memesan menu lain/minum di tempat ini. Pagi hari juga merupakan waktu yang pas menikmati Pantai Ujong Blang, karena posisinya yang menghadap matahari terbit.

(JETBUS) PUTRA PELANGI 

Jurusan Lhokseumawe – Medan:  
Executive seat 2-2 (harga normal, 2015) IDR 110,000–120,000 *lupa
Super Executive Non Stop Seat 2-1 (harga normal, 2015) IDR 140,000

Satu hal lagi yang membuat mudik lebaran kali ini berbeda dari sebelumnya. Kalau tahun lalu berangkat via Medan dan pulang ke Jakarta dari Banda Aceh menggunakan jalur udara, tahun ini kami ke Medan menggunakan jalur darat dengan bis. Cumi dari dulu selalu promosi dan bilang kalau naik bis di sini tuh enak karena bisnya bagus-bagus dan... muewah. Saya awalnya sangsi, eh ternyata beneran enak bin empuk dan bisa tidur 180 derajat macam di business class hahahaha.


Kami menggunakan Super Executive Non Stop Seat 2-1 dan berangkat tengah malam. Waktu yang enak menggunakan bis adalah tengah malam. Kenapa? biar bangun-bangun udah sampe Medan. Karena kami pulang sudah lebih dari tusla (tujuh hari sebelum dan sesudah lebaran) kami mebayar dengan harga normal yang nominalnya sama dengan harga bis Executive seat 2-2 yang digunakan adik ipar saya ini (dia masih kena tuslah). Selain Putra Pelangi, ada juga bis lain yang bikin ngiler, namanya Sempati Star.

Jadwal pesawat kepulangan kami sudah di setting sedemikian rupa oleh Cumi agar tidak terburu-buru menuju bandara, dan sudah prepare juga untuk city check-in sehari sebelumnya. Karena pool bis yang kami naiki lebih dekat (jalan kaki tidak sampai 5 menit) dengan Shuttle Bus Airport dan hanya merogoh kocek 20,000 rupiah per orang. Sedangkan kalau ingin menggunakan ARS harus menggunakan angkutan umum lagi menuju stasiun Medan. Saya belum pernah merasakan naik ARS (Airport Railink Services) dari dan ke Kualanamu. Maybe next time

Perjalanan ke Bandara Kualanamu dari pool Shuttle Bus Airport sekitar 1 jam. Sampai Jakarta tinggal pesan Uber Taxi deh. Hehehehe.

Seperti itu keseruan mudik lebaran kami. Semoga tahun depan masih tetap bisa mudik, aamiin!!!!!!

Ini mudik lebaranku, bagaimana mudik lebaranmu? 











Comments

  1. seru bangeet ya kar.. martabaknya bikin ngiler banget dan bisnya wow yaah. heheeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Uci, martabaknya ngga bisa ditolak banget hahaha. Bis-bis Aceh memang juara banget!

      Delete
  2. Martabak dureeeeennn 😍😍😍😍

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts