Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71


Seiring beranjak dewasa, jujur saya sudah tidak begitu tertarik dengan acara menyambut lomba perayaan 17 Agustus. Sangat berbeda ketika masih kecil yang bawaannya pengen ikutan pleus menangin semua lomba biar dapet hadiah. Rasa excited itu berkurang perlahan, begitu pula dengan antusiasme di tempat saya tinggal. Perlombaan yang biasanya diadakan di taman utama komplek, sekarang hanya dilakukan di beberapa jalan depan rumah. Anak-anak ABG pun hanya sekedar mejeng di area sekitaran lomba cuma untuk update social media (yang pada kehidupan realita mereka hanya datang-foto-posting-pulang), well there’s nothing wrong with that though, it’s tragic!

In brief word, Law of Diminishing Return does exist, and it happens!

Lalu, apa rasanya merayakan kemerdekaan tanah air di negeri orang? 

Satu kata buat saya:

SERU!

Karena tempat tinggal dekat dengan Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) dan cukup akrab dengan masyarakat Indonesia di daerah saya, saya turut berpartisipasi dalam memeriahkan lomba 17 Agustusan yang dimulai dari awal Agustus sampai puncaknya adalah Pesta Rakyat (Indonesian Week Festival) pada tanggal 20 Agustus.

Juara 1 Lomba Tarik Tambang Dewasa

Saya pun memiliki kesempatan istimewa untuk mengikuta upacara 17 Agustus, baik pengibaran maupun penurunan bendera merah putih. Rasa haru, kangen akan negeri sendiri ada. Rasa sedih pun ada. Sedih karena kok rasanya bangsa kita udah 71 tahun merdeka tapi kok masyarakat pada umumnya pola pikirnya ngga pernah move on dari rasa pernah dijajah. It’s okay to remember where you come from, how you overcome from the past, but that doesn’t mean you can’t move on and change to be better. Semoga era presiden yang sekarang ini, dimana sangat terlihat timnya perlahan mencari dan mencoba berbagai macam solusi untuk Indonesia agar menjadi negara yang lebih baik, baik dari segi pendidikan, ekonomi, transportasi, dan sebagainya. Semoga dalam beberapa tahun kedepan kerja keras mereka membuahkan hasil seperti yang kita impikan, karena kelak yang akan menikmati semuanya adalah anak cucu kita.

Mengenakan songket warisan turun menurun dari Nenek. Berat, namun bangga memakainya.

Pesta Rakyat yang diadakan di SRIT merupakan puncak perayaan 17 Agustus di sini. Rangkaian acara yang diselenggarakan dalam acara tersebut adalah berbagai macam lomba seperti tarik tambang, sepak pinang (perpaduan antara sepak bola dan panjat pinang), balap karung, makan kerupuk. Lalu ada festival kuliner (diselenggarakan di 17 tempat di Jepang secara serentak dan live,  memasaka 45 varian makanan Indonesia selama 8 jam, yang nantinya akan dimasukkan ke MURI) kompetisi film pendek, pertunjukkan seni & budaya, dan workshop batik dan bazaar.

Halal Wagyu Grade A5!

Sayangnya saya tidak mengikuti acara sampai akhir. Namun acara cukup meriah, walaupun di pagi hari hujan deras, siang itu matahari cukup terik dan cenderung lembab. Dalam pertunjukkan seni dan budaya ada paduan suara yang dinyanyikan oleh beberapa orang Jepang. Mereka kurang lebih 7 tahun tinggal di Indonesia dan hafal dengan lagu-lagu Indonesia. Kalau saya menyaksikan langsung pasti merinding banget! 

Senangnya setelah sekian lama benar-benar merasakan kemeriahan peringatan 17 Agustus. Semoga tahun-tahun berikutnya semakin meriah dan menyenangkan!

Dirgahayu Indonesiaku!

Comments