Summer Gateway: Biei & Furano, Hokkaido


July 2017

“Bagus banget!!!”

Adalah kesan pertama beberapa menit sebelum landing di Bandara Ashakiwa. Melihat pemandangan di darat melalui jendela pesawat, tepat di depan emergency door, tempat dimana saya duduk. Hamparan bukit-bukit dan petak-petak ladang menghiasi daerah Biei, tempat yang akan kita tuju. Imajinasi saya langsung membayangkan iklan L’Occitaine dengan hamparan ladang lavendel di La Provence, Perancis (mari di-aminin saja suatu saat saya ke sana!). Biei memang terkenal dengan hamparan ladang serta bukit-bukitnya yang seringkali dijadikan sebagai lokasi shooting untuk iklan komersil.

Selain itu, rasanya di Tokyo saya tidak pernah lihat hamparan hijau seluas ini. Mungkin karena alasan itu juga saya senang sekali dan tidak sabar untuk mengeksplor Biei.

Tiba waktunya landing, kami segera turun dan memesan mobil sewaan. Karena kami tidak menggunakan bagasi, saat itu counter-counter penyewaan mobil masing kosong song song. Namun, karena counter sewa mobil yang kita inginkan si mbaknya cuma bisa ngomong bahasa Inggris sebatas “Can you speak Japanese?” jadinya kita kalah cepet sama turis lokal. Singkat cerita, dengan bantuan mbak-mbak dari Tourist Information kami sukses nyewa mobil.... perdana di luar kota!

Cumi kebagian shift nyetir pagi ke siang dan saya sore ke malam plus lintas kota menuju Sapporo. Mantab jiwa!

BIEI


Ken & Mary Tree



Adalah salah satu spot yang terkenal karena pernah dijadikan sebagai latar iklan komersil sebuah perusahaan mobil. Ken dan Mary merupakan karakter di dalam iklan tersebut. Kenapa ngga Ken & Barbie ya, hehehe *krik krik, usaha lagi Kar ngelucunya*

Sepanjang perjalanan saya kebanyakan minta stop untuk mengambil foto, karena memang “nyeni” banget ladang-ladangnya! ladang gulungan lumbung doang padahal. Kalo dipikir-pikir, mungkin gulungan ini yang menjadi inspirasi dari makanan sushi kali ya? hehehehe *meh! try again, Karina!



Parent & Child Trees



Ini salah satu pemandangan yang unik banget. Dari kejauhan di antara hamparan padi terlihat 3 pohon yang terlihat seperti orangtua dan anak. Di sini kami dan beberapa pengendara lainnya sempat ditegur karena berhenti di pinggir jalan (di tempat lain disediakan lahan parkir), namun doi lelah menunggu untuk menegur kami yang sedang di interview sama TV lokal mengenai liburan di Hokkaido.

Blue Pond (青い池Aoi-ike)



Karena menggunakan mobil sewaan, waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain terasa lebih efektif dan kita bisa lebih leluasa menentukan berapa lama kami stay di satu tempat. Akhirnya, kami pergi agak menjauh sedikit untuk melihat Blue Pond.

Pengguna Apple? Pasti tau dong Blue Pond yang ada di pilihan wallpaper untuk layar Mac mu! Blue Pond lebih berasa khusyuk kalau didatengin pas musim dingin, lebih dramatis. Tapi ternyata bagus juga kok waktu musim panas, lebih hidup rasanya. Warna kolamnya pun bener-bener biruuuuuuuuu banget, cenderung turquoise. Konon warna ini didapat karena adanya campuran aluminium hidroksida.

Blue Pond sendiri adalah dam buatan manusia yang dulunya berfungsi untuk melindungi kota Biei dari lumpur vulkanik yang mengalir ke sungai Biei akibat dari erupsi gunung Tokachi pada tahun 1988.

Shikisai no Oka (四季彩の丘)



Ini dia taman bunga yang dinanti-nanti, yang terpampang hampir semua brosur pariwisata di Bandara Asahikawa tapi masih kalah pamor sama Tomita Farm! I have no expectation sama tempat ini karena cuacanya belum summer banget. Waktu tiba di te-ka-pe ternyata luasnya tidak seluas yang dibayangkan. Ukurannya oke banget untuk dijelajah dengan kaki. Lalu apakah saja jalan kaki mengitari taman bunga ini? tidak. Kami menyewa semacam golf cart, biar abang nyetir, eneng puas memandang dan berfoto. 

Di sini wajib sih punya 1 foto yang bagus, juga 1 foto yang ada kamunya! Pokoknya terbayang banget deh Agustus nanti bagusnya kayak apa. Mekarnya pasti lebih bagus dari yang sekarang dilihat, ditambah sinar matahari, awan dan langit yang cerah. Ini aja udah bagus menurut saya. Oia, jajanan yang ditawarkan rata-rata snack dan buah melon kuning potong. Sepotong melon sangat mengenyangkan dan melepas dahaga, manis dan seger! Wajib jajan itu.

NAKA-FURANO


Tomita Farm



Tempat yang sangat turis friendly banget karena dari segi tempat makan, jumlah ladang, arena bermain anak dan lahan parkir sangat mumpuni. Ngga heran kalau tempat ini sangat populer. Ngomong-ngomong populer, udah mau seharian nih ngider-ngider kami belum melihat penampakkan orang Indonesia. Paling banter orang Malaysia. Why oh why?! you guys must go to Hokkaido not only in winter and not only to Sapporo for Snow Festival––padahal ke sana aja belon *emoticon nyengir dengan satu tetes keringat di samping jidat*––kesian kedinginan doang abis itu kerokan. Kalau musim panas kan bisa piknik dan lebih menikmati udara serta pemandangannya *iyain aja*

Dari segi pemandangan, Tomita Farm dan Shikisai no Oka sangat berbeda. Kalau di Shikisai no Oka kita melihat permainan bukit dan gunung yang terlihat infinity di sekelilingnya, sedangkan Tomita Farm menawarkan pemandangan ke satu arah, ke depan, dimana kita bisa melihat barisan gunung gunung, hamparan hijau serta kereta api. Yang mana yang direkomen? dua-duanya!

FURANO


Ningle Terrace



Yang ngebet ke sini adalah si Cumi, karena penasaran. Penasaran karena salah satu jasa private tour Indonesia di Jepang yang sering dipakai seleb ada foto di sini dan.... ngga di tag lokasinya di mana. Sayangnya, walau doi ngga tag lokasi, doi nge-hastag! Ya kalo begitu mah gampang dikuliknya. Terus ketemu deh tempat ini. Sebenernya saya pingin ke sebelahnya, yang ternyata terhubung jadi satu wilayah (makanya jadi gampang dikulik hehehehe). Tempat ini menyatu dengan tampan yang luasssssss banget, serta depan-depanan dengan New Furano Prince Hotel. 

Daerah ini, kalau di lihat di google map pasti banyak spot titik tiga, alias tempat-tempat yang menurut mbah google menarik. Ada Ropeway juga yang menurut saya kalau waktu musim gugur cakep banget, dan kalau musim dingin dijadikan transportasi menuju uphill untuk skiing.

***

Terus nginep malam ini nginep di mana? Nah itu masih misteri. Misteri yang baru akan terpecahkan setelah makan pizza di kedai kecil yang ternyata lejat, dan perjalanan panjang menuju Sapporo. Tugas kakanda adalah cari hotel, tugas adinda menjadi driver fast and furious selama 3.5 jam karena jalan tol malam hari tidak ada batas kecepatan maksimal, hanya rambu-rambu hati-hati dengan lambang aneka binatang; serigala, rusa, dan lain-lain.

Ngga papa aku mah, selama bukan lambang suster ngesot.

Kami memang sudah niat nginap di Sapporo karena dua hari kedepan kami hanya eksplor Sapporo dan Otaru (yang hanya berjarak setengah jam dari Sapporo). Excited! 

Day 1 in Hokkaido: Explore Biei dan sekitarnya seharian √

(to be continued)




No comments :

Post a Comment